Uncategorized

Kami Yang Dihidupi Oleh Internet

Saya lupa tanggal pastinya, tapi tahunnya masih lekat dalam ingatan. 1998, itulah pertama kalinya saya merasakan sendiri yang namanya internet. Hari itu pertama kalinya kantor kami memasang internet, masih Telkomnet Instant dengan kode yang terkenal; 0809 8 9999. Tinggal mengatur mengatur sambungan, lalu menghubungi nomor itu dan voila! Kita sudah tersambung pada dunia nan luas bernama internet. Tapi jangan tanya kecepatannya, 52 Kbps sudah cukup untuk kebutuhan kala itu.

Setahun kemudian saya malah semakin lekat dengan internet. Kala itu saya bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta yang kebetulan punya sambungan internet yang jelas lebih cepat dari sambungan internet kantor kami di Makassar. Dari situlah persentuhan dengan internet semakin intens, nyaris setiap hari.

Meski begitu, persentuhan dengan internet sempat terputus selama bertahun-tahun setelah saya kembali ke Makassar. Tidak ada urusan yang sangat penting yang mengharuskan saya bersentuhan dengan internet kala itu, jadilah internet kembali menjadi asing dan tak lagi benar-benar dibutuhkan.

Persentuhan kedua dengan internet baru terjadi di sekira tahun 2005 ketika kantor di Makassar kembali memasang internet. Kali ini bukan Telkomnet Instant lagi, tapi layanan dari sebuah penyedia jasa sambungan internet. Kecepatan sambunganya jelas sangat jauh di atas layanan Telkomnet Instant yang kala itu kecepatannya memang sudah terasa seperti seekor keong yang mengejar kelinci.

Persentuhan yang semakin intens dan akrab dengan internet kemudian membuat saya menjadi seorang blogger, pemilik blog. Lalu internet juga yang membantu saya memperluas jaringan, menambah teman dan guru dan menjadi perpustakaan maha luas yang memungkinkan saya belajar banyak hal. Dari seorang blogger yang hanya iseng dan sekadar melampiaskan hobi hingga kemudian perlahan menjadi seorang blogger yang serius.

Tahun 2012 saya memutuskan untuk berhenti sebagai karyawan, meninggalkan dunia kerja yang saya akrabi selama 15 tahun. Menjadi seorang blogger, itu jawaban saya ketika ada yang bertanya saya akan kerja apa setelahnya.

Kala itu blog memang sudah jadi lahan pekerjaan yang baru. Banyak sekali orang di negeri ini yang berhasil menghidupi dirinya dari blog. Mereka menjadikan blog sebagai ladang uang dari iklan yang mereka pasang atau dari tulisan pesanan beberapa merek atau perusahaan.

Tapi saya tidak hidup dengan cara itu. Saya menjadikan blog sebagai etalase kemampuan saya menulis. Etalase yang perlahan-lahan mulai dilirik oleh beberapa perusahaan dan NGO. Saya diminta menulis untuk mereka, mendokumentasikan kegiatan dan program yang mereka punya. Alasan utama tentu saja karena mereka melihat kemampuan saya yang terpampang jelas dari tulisan-tulisan saya di blog.

Semua itu dimungkinkan karena layanan internet memang membuat kita bisa mencari hampir semua hal. Apapun yang kita mau bisa dengan mudah kita cari di internet, sesuai kebutuhan kita, sesuai kemauan kita. Dan saya ada di sana, menjajakan kemampuan dan berharap internet menghubungkan saya dengan mereka yang membutuhkan.

Saya juga menggunakan internet untuk terus berhubungan dengan banyak orang, membangun jaringan, menambah pertemanan. Jaringan dan teman-teman itu di belakang hari ternyata sangat berguna, baik untuk mendatangkan beragam pekerjaan maupun untuk sesuatu yang lebih besar; menambah pengetahuan, kemampuan dan wawasan.

Saya hanya satu dari sekian juta orang di dunia ini yang hidup dari internet. Kami adalah orang-orang yang begitu bergantung pada internet. Kalau saya bergantung pada blog, maka orang-orang lainnya ada yang bergantung pada media sosial lain seperti Facebook, Twitter atau Instagram dan jutaan lainnya bergantung pada perangkat lunak dan perangkat keras internet. Semua sama, sama-sama bergantung pada internet.

Indonesia memang termasuk negara dengan pertumbuhan internet tertinggi di dunia. Tahun 1998 diperkirakan pengguna internet di Indonesia hanya sebanyak 500 ribu orang, tapi tiga belas tahun kemudian tepatnya di tahun 2011 jumlah itu bertambah 100 kali lipat menjadi 50 juta orang. Tahun 2015 diperkirakan pengguna internet di indonesia sudah mencapai angka 80 juta.

Masyarakat urban hingga rural menjadi pengguna aktif internet, dari sekadar saling sapa lewat media sosial hingga yang berjual-beli lewat internet. Peluang-peluang baru tercipta, pekerjaan-pekerjaan baru bermunculan.

Belasan tahun lalu ketika mendengar kata developer maka yang terbayang di kepala adalah mereka yang membangun rumah dalam sebuah kompleks. Tapi sekarang, istilah itu jadi bias. Developer selain adalah mereka yang berurusan dengan konstruksi perumahan juga bisa berarti mereka yang mengembangkan perangkat lunak untuk pengguna internet, khususnya pengguna internet lewat handphone.

Belasan tahun lalu orang-orang tidak mengenal istilah buzzer sebelum kemudian internet dan media sosial membuat istilah itu muncul dan lazim didengar oleh para pengguna internet. Buzzer adalah mereka yang dipekerjakan oleh sebuah merek dagang, pemerintah daerah atau pelaksana acara untuk mempopulerkan produk mereka. Buzzer menggunakan popularitas dan jaringan mereka di internet untuk melaksanakan pekerjaan itu.

Dulu orang harus punya toko untuk bisa berjualan, minimal teras yang dimodifikasi menjadi seperti layaknya toko. Tapi sekarang, dengan bantuan internet semua itu tidak perlu lagi. Banyak pedagang yang hanya duduk manis di depan laptop atau komputer lalu tersambung ke internet dan mulai berjualan. Tak perlu toko fisik, cukup mempergunakan beragam media sosial yang ada di internet atau kalau mau repot sedikit silakan membuat sebuah website khusus. Internet sungguh membuka peluang-peluang baru.

Internet yang berkembang begitu pesat belakangan ini memang mengubah banyak budaya dan kebiasaan manusia. Interaksi berubah, pola hubungan berubah, bahkan hingga pola berbisnis pun berubah. Saya adalah satu dari jutaan orang yang juga menggantungkan hidup dari internet, menggunakan internet sebagai bagian penting dalam menopang hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s